Kamis, 09 Desember 2060

Pendahuluan


Selamat datang para pembaca blog, yang kuat stalking akun mantan, tetapi lemah diterpa rindu. Hari ini aku coba-coba untuk menulis blog lagi.

Aku pikir nge-blog adalah cara terkini untuk spam segala cerita basi kita, dua ratus kali lebih baik daripada kita spam cerita kita di story Instagram dan Whatsapp. Hadeuh, kalian bisa bayangkan orang-orang gila yang stroy-nya sampai bertitik-titik itu hahaha. 

Anyway, sebenarnya ini adalah blog lamaku, tetapi sedikit aku sunting dengan cerita-cerita yang menurutku layak untuk aku bagikan ke kalian. Cerita tentang banyak hal, bisa itu cinta, pekerjaan, hobi, bahkan hal-hal tidak berguna yang aku pikir kalian akan senang jika membacanya.


In the end, aku ucapkan terima kasih karena telah mampir di blogku. Kalian bisa sampaikan kritik dan saran ke email ataupun ke social media yang aku punya, aku akan sangat senang menerima semua saran dari kalian.

With love,

Wahyu Utomo

Minggu, 09 Desember 2018

Eceng Gondok, Sebuah Perspektif

Eceng gondok
Sumber : plantright.org
Kita semua pasti tahu apa itu eceng gondok. Terkenal sejak dulu, apalagi untuk masyarakat pedesaan yang dekat sekali dengan dunia pertanian. Tumbuhan ini mudah sekali dikenali karena bentuk batangnya yang unik dan sedikit menggelembung, itulah asal mengapa tumbuhan ini dinamakan eceng gondok.

Tumbuhan ini menjadi gulma di pertanian, karena populasinya yang padat pada irigasi dan dapat menghambat pengairan menuju sawah ataupun ladang para petani. Selain itu, kehadiran eceng gondok di perairan dapat mengganggu lewatnya cahaya matahari ke dalam air, sehingga kehidupan organisme air di bawah eceng gondok menjadi terhambat, bahkan menyebabkan tidak dapat hidupnya organisme bawah air jika eceng gondok memenuhi permukaan air.

Hingga saat ini mengendalikan eceng gondok masih menggunakan cara manual, yaitu mengambilnya dan mengeluarkannya dari air menggunakan tangan ataupun jaring. Mungkin hal tersebut efektif jika perairannya hanya skala kecil, tetapi bayangkan jika perairannya seluas Danau Toba, mungkin butuh bertahun tahun dengan tenaga kerja dan biaya yang sangat banyak untuk dapat mengendalikan eceng gondok tersebut.

Tetapi manusia tak habis akal, jika mengendalikan dengan cara manual membutuhkan tenaga dan biaya yang besar, bagaimana jika eceng gondok tersebut dimanfaatkan sebagai bahan jadi. Dewasa ini eceng gondok telah dimanfaatkan  menjadi beberapa bahan jadi seperti tas, sepatu, dan beberapa perabot rumah tangga.

Tas dari eceng gondok
Sumber : shopee.co.id


Barang-barang tersebut dibuat menggunakan serat eceng gondok dengan cara mengeringkan eceng gondok, kemudian dibentuk dan diatur hingga menjadi barang yang diinginkan. Dengan cara seperti ini, besar kemungkinan eceng gondok akan terkendali dengan meningkatnya permintaan souvenir berbahan dasar eceng gondok.

Namun kekurangannya adalah, sedikit sekali masyarakat yang paham dan terampil untuk mengubah eceng gondok menjadi bahan jadi yang dapat dijual. Sehingga, eceng gondok tetap menjadi momok besar untuk perairan di seluruh Indonesia. Jika hal ini dapat diatasi, eceng gondok akan berubah statusnya dari gulma yang merugikan menjadi tumbuhan bermanfaat untuk membantu ekonomi masyarakat di sekitar perairan. Ada kemungkinan juga pada akhirnya eceng gondok akan dibudidayakan untuk memenuhi permintaan bahan yang sangat besar.


Wahyu Utomo